Posted by: Admin | September 7, 2007

Berdarah Mencari Makan

Saat ini sulit bagi mayoritas rakyat Indonesia mencari makan. Kekayaan alam seperti minyak, gas, emas, dsb sudah diserahkan ke perusahaan-perusahaan asing. Akibatnya rakyat tidak bisa menambang emas dan kekayaan alam lainnya.

Puluhan juta hektar tanah diserahkan ke perusahaan-perusahaan besar yang hanya mempekerjakan sedikit orang dengan efisiensi tinggi berupa HPH, konsesi tambang, dsb. Akibatnya rakyat kesulitan untuk bertani/berkebun.


Rakyat sampai mati hanya demi memperebutkan beberapa hektar tanah untuk bertani baik dengan sesama rakyat mau pun dengan TNI seperti di Alas Tlogo Jatim.

Karena kekayaan alam dikuasai asing, rakyat hanya menerima sedikit sisa-sisa yang ada. Satu perusahaan asing yang mengelola minyak dan gas di Indonesia diberitakan majalah Forbes menghasilkan keuntungan rp 360 trilyun setahun. Ironisnya rakyat Indonesia mayoritas hidup dalam kemiskinan.

Supir angkot dan omprengan sampai rela mengorbankan darah dan nyawa mereka demi berebut sesuap nasi. Bahkan sering saya lihat sesama supir angkot, misalnya Kopaja 502, saling sumpah serapah bahkan ada yang berkelahi karena rebutan penumpang.

Itulah sulitnya mencari makan di Indonesia. Tak heran jika jutaan orang Indonesia memilih bekerja sebagai TKI/TKW di luar negeri dengan resiko disiksa/diperkosa. Itu jauh lebih baik ketimbang stress/bunuh diri di Indonesia karena tak punya pekerjaan dan tak punya penghasilan.

Coba anda naik Kereta Listrik Jabotabek. Banyak orang sampai merangkak di gerbong kereta membersihkan kotoran demi mendapat uang receh dari penumpang KA yang peduli. Ada bapak dan ibu yang membawa anaknya yang masih balita mengamen/mengemis. Begitulah keadaan di negeri ini.

Coba perhatikan bis-bis yang penuh sesak oleh penumpang laksana ikan sarden. Mereka mencoba mengirit uang gaji yang tidak seberapa.

Bumi kita kaya. Tapi orang asing yang menikmati.

Tanah kita subur. Tapi petani kita tak bisa bertani karena sudah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar.

Semoga ada pemimpin di negeri kita yang mau memperbaiki keadaan negeri ini. Kita butuh pemimpin yang adil yang bukan hanya mau memberi kekayaan alam/tanah ke pengusaha asing, tapi juga ke rakyatnya sendiri.

“Sesungguhnya Allah akan melindungi negara yang menegakkan keadilan walaupun ia kafir, dan tidak akan melindungi negara yang dzalim (tiran) walaupun ia muslim”. (Mutiara I dr Ali ibn Abi Thalib)

Salam

BENTROK SOPIR ANGKOT DAN OMPRENGAN BEREBUT REZEKI:

http://www.kompas.co.id/ver1/Metropolitan/0709/04/165819.htm

Bentrokan Antarsopir Angkot Berlanjut

Laporan Wartawan Kompas C Windoro AT

JAKARTA, KOMPAS – Bentrokan antarsopir angkutan kota (Angkot) resmi, dan sopir omprengan di sekitar perbatasan Tangerang-Jakarta, sampai Terminal Kalideres di Jalan Daan Mogot, masih berlanjut hingga Selasa (4/9) sore.

“Tadi malam sekitar pukul 23.00 terjadi bentrokan lagi di Kebon Besar, Warung Gantung, perbatasan Tangerang-Jakarta. Sebuah Metro Mini jurusan Kalideres-Serpong dirusak,” ungkapnya.

“Jam 12.00 terjadi lagi di sekitar Terminal Kalideres. Dua metro mini nomor 84 dan nomor 80 jurusan Kalideres-Pasar Ikan dan jurusan Kalideres-Jembatan Lima dirusak,” tambah Ketua Koperasi Wahana Kalpika, Kasmuri, yang dihubungi terpisah.

Di persimpangan Cengkareng berjaga beberapa polisi lalu lintas. Di depan Kantor Polisi Sektor Kalideres ada sebuah truk polisi yang kosong. Pukul 13.30, belasan sopir Angkot di Terminal Kalideres, berjaga-jaga. Pukul 16.00, puluhan sopir Angkot berkumpul di Terminal Kalideres. Sementara puluhan sopir omprengan berkumpul di luar terminal. Sebagian mereka membawa tongkat besi dan kayu.

DESA REBUTAN TANAH

http://www.suaramerdeka.com/harian/0408/19/ked06.htm

KEBUMEN- Rebutan tanah bengkok 1,2 hektare (ha) antara Desa Buayan dan Rogodadi Kecamatan Buayan, Kebumen, memasuki babak baru. Pengadilan Negeri (PN) Kebumen, kemarin menolak gugatan Kades Buayan Moch Basirun.

REBUTAN TANAH PETANI VS TNI TEWASKAN 4 WARGA:

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/07/jatim/67666.htm

Kasus penembakan oleh prajurit Marinir di Desa Alas Tlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, yang menewaskan empat orang dan melukai delapan orang, merupakan kejahatan kemanusiaan yang menyayat hati. Betapa tidak, penembakan innocent nirsenjata yang mengakibatkan korban ibu hamil dan anak balita sejatinya telah dibuang jauh-jauh dari bumi mekar demokrasi, bumi pertiwi Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: